Membangun Desa Budaya Bukit Mantar
Pepohonan hijau yang mengelilingi
perkampungan dan hawa dingin khas pegunungan terasa kental dengan nuansa
pedesaan. Kehidupan warganya yang tetap mempertahankan tradisi leluhur
menciptakan suasana damai dan harmonis.
Mantar yang masuk wilayah Kecamatan Poto
Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat itu merupakan desa di
atas pegunungan atau “village on mountain” yang menyimpan sejuta pesona
dan kedamaian.
Desa di atas perbukitan Mantar itu pernah
menjadi lokasi pengambilan gambar film “Serdadu Kumbang” garapan
sutradara kondang Ari Sihasale yang mengisahkan tentang kehidupan tiga
bocah yang hidup dalam kondisi serba kekurangan.
Tokoh masyarakat yang juga Ketua Adat
Desa Mantar M Nasir B mengisahkan konon penduduk Desa Mantar merupakan
keturunan dari bangsa Portugis yang kapalnya terdampar dan rusak di
perairan pantai di bawah Bukit Mantar tahun 1814 yang kini masuk wilayah
Desa Tuananga, Kecamatan Poto Tano.
Para penumpang kapal itu terpaksa menetap
di Desa Kuang Buser dan Tuananga. Bangsa Portugis tersebut kemudian
mendaki lereng bukit dan akhirnya mereka kemudian menetap di pucak bukit
berketinggian 630 meter di atas permukaan laut yang kini menjadi di
Desa Mantar.
Terlepas dari benar tidaknya asal muasal
nenek moyang warga Desa Mantar itu. Kini desa yang yang berada di atas
perbukitan Mantar yang dihuni oleh warga yang masih tetap mempertahankan
kearifan lokal itu telah ditetapkan menjadi “desa budaya”.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat
menjadikan Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano itu sebagai desa budaya guna
menarik minat wisatawan kunjungan ke daerah ini.
Bupati Sumbawa Barat KH Zulkifli Muhadli
mengatakan, Mantar akan dijadikan desa budaya yang nantinya akan
didukung dengan berbagai fasilitas penunjang. Namun infrastruktur yang
akan dibangun tetap mempertahankan keasliannya agar benar-benar
bernuansa pedesaan.
“Saya ingin menjadikan Mantar sebagai
desa budaya yang mirip dengan sebuah desa budaya di Cina, yakni Desa
Wisata “Hallstatt”. Jadi nantinya semua bangunan rumah penduduk
berarsitektur khas Sumbawa, yakni rumah panggung,” katanya.
Selain itu, Zulkifli menginginkan di
semua halaman rumah penduduk ditanami bunga, sehingga akan nampak indah
dan asri agar para wisatawan merasa betah menikmati libur di desa yang
berada pada ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu.
Kyai Zul, panggilan akrab KH Zulkifli
Muhadli mengatakan, kini di Desa Mantar hanya sebagian yang menempati
rumah panggung. Ke depan semuanya akan dilakukan perubahan secara total,
sehingga semunya rumah panggung. Rumah permanen yang ada sekarang ini
akan diganti dengan rumah yang berarsitektur khas Sumbawa.
Ia juga merencanakan semua petani di Desa
Mantar menggunakan peralatan tradisonal untuk mengolah lahan pertanian.
Kalau sekarang masih ada sebagian petani menggunakan alat dan mesin
pertanian (Alsintan), seperti traktor tangan, nantinya akan diganti
dengan alat bajak tradisional yang terbuat dari kayu dan ditarik kerbau.
“Ini dimaksudkan agar Desa Mantar benar-benar bernuansa pedesaan,” katanya.
Terkait dengan rencana penggantian
sebagian rumah penduduk dengan rumah panggung dan alat pertanian
menggunakan peralatan tradisional Kyai Zul berjanji akan dimusyawarahkan
dengan warga.
“Saya memastikan bahwa penggantian rumah
penduduk dan peralatan pertanian menggunakan peralatan tradisional itu
tidak akan dilakukan secara paksa dan tidak akan merugikan masyarakat,
karena semuanya dilakukan secara musyawarah dan dibiayai oleh
pemerintah,” katanya.
Di samping itu di beberapa titik
strategis, Pemkab Sumbawa Barat akan membangun pos terutama di sekitar
tebing yang berbatasan dengan pesisir pantai. Dari lokasi ini wisatawan
bisa menikmati keindagan pemandangan laut.
Konsep pembangunan pariwisata di Desa
Budaya Bukit Mantar ini mengedepankan pariwisata berbasis masyarakat,
artinya para wisatawan yang berkunjung ke desa ini bisa menginap di
rumah penduduk yang berfungsi sebagai homestay.
Ini akan menjadi sumber pendapatan
masyarakat, karena para wisatawan akan membayar penginapan dan makanan
yang disuguhkan untuk para wisatawan. Dengan cara ini masyarakat
benar-benar akan menikmati dampak pariwisata.
Obyek wisata Budaya Bukit Mantar
menawarkan suasana pedesaan yang penuh kedamaian. Tak ada hotel bintang
atau restoran mewah, para tamu yang menginap akan disuguhkan menu
makanan khas Sumbawa, seperti “sepat” dan “singang” (masakan berbahan
ikan).
Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral
Kebudayaan dan Pariwisata (ESDM Budpar) Kabupaten Sumbawa Barat
Hajamuddin mengatakan, terkait dengan penetapan Mantar sebagai desa
budaya pihaknya akan membangun berbagai fasilitas penunjang.
Untuk tahap awal Pemkab Sumbawa Barat
akan menuangkan program tersebut dalam peraturan bupati dan selanjutnya
akan dibuatkan peraturan daerah (Perda).
“Pengembangan Mantar menjadi desa budaya
itu akan diatur dengan perda agar pembiayaannya bisa dianggarkan dari
dana APBD. Pembangunan desa budaya tersebut akan kita mulai pada 2012,”
ujarnya.
Berbagai keunikan
Kepala Desa Mantar Mustafa AZ mengisahkan
nenek moyang warga Mantar yang kapalnya yang kandas perairan sekitar
Tuananga ratusan tahun silam itu membawa lima benda, yakni dua buah guci
dan satu gong. Saat ini dua guci bergaya Cina itu bisa dilihat di
masjid Desa Mantar.
Dua guci tersebut kini digunakan sebagai
tempat berwudhu di Masjid Desa Mantar. Sementara satu buah gong
peninggalan nenek moyang warga Mantar itu tersimpan di “Ai Mante” atau
Air Mantar yang merupakan sumber mata air di bukit Mantar yang tidak
pernah kering sepanjang tahun.
Keunikan lainnya adalah tujuh bocah
“albino”. Konon jumlah mereka selalu tujuh orang. Jika ada satu albino
yang meninggal maka akan lahir albino yang baru, begitu seterusnya yang
berlangsung sejak dulu. Dan ada sumur di atas bukit yang airnya tidak
pernah kering walaupun sedang musim kemarau.
Kendati berbagai keunikan itu tidak bisa
dibuktikan secara ilmiah, namun warga setempat tetap mempercayai
termasuk tujuh bocah albino itu jumlahnya selalu tujuh orang, sehingga
jika ada satu orang lain, maka akan ada yang meninggal dunia.
Masyarakat terutama anak-anak yang
tinggal di desa yang berhawa sejuk itu hingga kini tetap mempertahankan
permainan rakyat tempo dulu seperti main “badempa” (sejenis permainan
rakyat di Sumbawa Barat, “pake” (permainan gasing), “gentao” dan
“kelar”.
Demikian juga jenis kesenian “ratub”
(sejenis kesenian bernafas Islam) dan gong genang yang diwarisi secara
turun temurun tetap dipertahankan hingga sekarang ini.
Dari atas perbukitan dengan ketinggian
sekitar 630 meter di Desa Mantar akan dibangun “pemanto” atau pemantau.
Dari lokasi ini para wisatawan bisa melihat secara langsung seluruh
wilayah Kecamatan Seteluk dan sekitarnya serta gugusan “gili” (pulau
kecil).
Desa Mantar berada di dalam wilayah
administratif Kecamatan Poto Tano dengan luas wilayah 3.085 kilometer
persegi dan jumlah penduduk 1.455 jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki
711 jiwa dan perempuan 744 jiwa.
“Dari Desa Mantar kita dapat melihat
dengan jelas Pulau Lombok dan Gunung Rinjani, serta Selat Alas yang
menghubungkan antara Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok,” kata Kepala Desa
Mantar Mustafa HZ.
Selain itu di atas perbukitan itu juga
dapat pulau-pulau kecil (gili) di sekitar Tanjung Poto Tano, seperti
gili Kenawa yang menjadi salah satu obyek wisata masyarakat setempat dan
gili-gili lainnya dan dari puncak bukit itu juga terlihat permukiman
penduduk desa-desa yang berada di bawahnya, seperti Desa Senayan, Desa
tapir dan Seteluk.
Sebelumnya hanya ada ada satu jalan
setapak dari Desa Senayan menuju Mantar. Namun kini Pemerintah Kabupaten
Sumbawa Barat sudah membuka jalan yang bisa dilalui kenaraan roda
empat, sehingga masyarakat tidak perlu lagi melewati jalan setapak
menuju Desa Mantar.
“Dengan adanya jalan tembus tersebut,
masyarakat Desa Mantar lebih memilih menggunakan kendaraan roda empat
sebagai alat transportasi untuk naik-turun pegunungan Mantar,” kata
Mustafa.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat terus
berjuang mengembangkan sektor pariwisata dengan memanfaatkan potensi
yang ada. Selain objek wisata Pantaio Maluk, Jelenga dan sejumlah
destinasi wisata lainnya, pemerintah daerah di “Bumi Undru” (nama lain
Kabupaten Sumbawa Barat) kini tengah berjuang membangun Desa Budaya
Mantar”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar