Sabtu, 04 Januari 2014

Tentang Hidup di Berlin

Sekilas Tentang Hidup di Berlin

Ini bukan kisah sedih mengenai seseorang yang hampir mati kehausan karena tersesat di gurun Sahara atau terjatuh di jurang Canyon. Tapi ini adalah cerita informatif saya mengenai kota yang belum lama ini saya tinggali. Berlin bukanlah kota wisata yang menyuguhi pemandangan alam dan bangunan kastil tua jaman dahulu. Layaknya ibukota, Berlin dipenuhi dengan gedung-gedung perkantoran dan apartemen untuk mahasiswa, pekerja, maupun umum. Sangat jarang ditemukan lapangan parkir yang luas di kota ini. Biasanya kendaraan pribadi hanya diparkir paralel di sepanjang jalan. Sepertinya kendaraan pribadi bukanlah kebutuhan utama di kota ini. Hal ini terlihat dari penumpang transportasi umum yang tak pernah sepi 24/7.
Sarana yang memadai haruslah ditunjang dengan transportasi yang setara pula. Sistem tranportasi Berlin terdiri dari S-Bahn (railway), U-Bahn (railway), tram, bus, dan beberapa ferri. Untuk memudahkan mobilitas penduduk, Berlin dibagi menjadi 3 bagian; Zona A, Zona B, dan Zona C. Zona A terletak di tengah kota dan menjadi jantung perekenomian. Di zona inilah terletak universitas ternama Jerman seperti TU Berlin, HTW Berlin, dan Humboldt University. Brandenburger Tor dan Holocaust Memorial Park juga terletak di zona ini. Zona ini kemudian dikenal dengan Ringbahn. Zona B terletak di luar pusat kota atau sebut saja ia semi kota. Jumlah penduduk yang tidak padat dan harga sewa rumah yang sedikit murah menjadikan zona ini sebagai pilihan tempat tinggal bagi mahasiswa baru. Zona C, zona di sekitar perbatasan Berlin tapi merupakan kawasan elit. Daerah ini cocok bagi mereka yang menginginkan ketenangan. Tak ada gedung tinggi, yang ada hanya rumah khas eropa dengan pekarangan yang terawat rapi dilengkapi hut buat si Blacky.
Peta Railway Kota Berlin
BVG (Berliner Verkerhs Aktiengesellschaft) adalah perusahaan yang bertanggung jawab mengatur sistem transportasi di ibukota Jerman ini. Sejak tanggal 1 Agustus 1949 BVG bekerja secara terpisah untuk daerah Berlin Barat dan Berlin Timur, BVG West dan BVG Ost. Namun kembali disatukan pada tanggal 1 Januari 1992 setelah kedua belah pihak bersatu.
Tiket bisa dibeli di mesin otomatis hampir di setiap peron stasiun. Tiket yang sudah dibeli harus diaktivasi melalui mesin aktivasi berwarna merah atau kuning bertuliskan “Entwerter”. Biasanya terdapat di setiap peron atau di dalam bus dan tram. Jika kedapatan bepergian tanpa tiket, akan dikenakan denda sebesar 40 Euro.
Satu tiket berlaku untuk semua jenis transportasi umum kecuali taxi. Sangat penting pula untuk memperhatikan masa berlaku tiket, seperti tiket one way, per 2 jam, harian, mingguan, bahkan bulanan. Informasi lengkapnya tersedia di website BVG. Selain harga tiket yang murah, sistem transportasi Berlin juga dikenal sangat efektif bekerja selama 24 jam. Bagi mahasiswa biasanya hanya dikenakan biaya semesterticket yang berfungsi sebagai biaya kuliah dan juga tiket ke mana saja untuk wilayah Berlin, berkisar antara 200 Euro – 250 Euro per semester (tetap saja tidak termasuk taxi).
Di depan Brandenburger Tor
Banyak hal baru yang saya temui hingga saat ini hampir 3 bulan hidup di Berlin. Sejak awal kedatangan akhir Februari lalu, kegiatan saya hanyalah beradaptasi dengan keadaan sekitar. Itu syarat yang harus diterima untuk bisa bertahan di tempat asing.
Salah satu kutipan dari buku yang sempat saya baca sebelum berangkat, adalah: “Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan rumah itu untuk kita, apa pun bentuknya. Tapi, yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun” – Life Traveler, Windy Ariestanty.
Memasuki pertengahan Mei, musim semi baru saja mulai. Daun-daun di pepohonan menghijau dan warna-warni bunga kembali menghiasi taman kota. Dan, para pencuri dan pencopet pun bersorak keluar kandang yang telah melindunginya dari dingin salju beberapa bulan lalu. Tak ada kota yang luput dari orang jahat. Seperti Tuhan yang Maha Adil, tak ada yang luput dari perhatian-Nya. Orang jahat dan orang baik diberi rezeki sama adilnya.
Di Berlin juga terdapat pengemis, pengamen, dan berandalan kota yang doyan mencoreti tembok. Setiap yang datar pasti memiliki lukisan atau sekedar nama yang sulit terbaca karena huruf yang bertumpuk, yang penting tidak polos (Dahulu, masyarakat intelektual Berlin melakukan unjuk rasa dengan membuat grafiti jalanan). Sementara, pengemis berkedok penjual koran. Ada yang hanya duduk diam di pintu stasiun, di depannya terdapat tumpukan koran dan brosur, seolah-olah dijual. Siapa saja boleh beli, tak ada patokan harga. Seikhlasnya saja. Ada juga yang berpindah dari S-Bahn ke U-Bahn atau sebaliknya. Mereka akan bercerita mengenai suatu informasi yang bisa menarik perhatian penumpang kemudian berjalan menjajakan koran, kali ini harga dipatok berkisar 10 cent – 30 cent.
Pengamen tak mau kalah. Mereka biasa berkeliling dalam kelompok kecil, antara 2 – 5 orang, membawa alat musik seperti gitar, biola, dan sound system. Pengamen yang berkelompok ini biasanya licik, tak ada lirik hanya musik saja. Sound system disambungkan dengan iPod. Melodi kebanyakan bersumber dari iPod tersebut, sementara mereka hanya memainkan alat musik seadanya. Namun harus saya akui, alunan melodi dari iPod mereka easy listening, mungkin diaransemen sendiri.
Ada lagi pengamen yang memilih solo karier dan menetap di satu tempat. Tipe ini biasanya berskill dan alat musiknya hanya satu, biasanya gitar atau biola atau akordion. Lokasi operasi mereka adalah bahnhof yang tidak terlalu ramai, seperti Westhafen, Schoenhauser Alle, dll. Saya lebih menikmati hiburan dari pengamen seperti ini dibandingkan dengan pengamen yang berkelompok tadi karena musik yang dimainkan lebih fokus dan terarah. Tak jarang saya berjalan pelan untuk bisa lebih lama menikmati alunan musik mereka. Pengamen tipe ini mirip dengan pengemis yang hanya diam di depan pintu bahnhof namun bisa mengubah mood pendengarnya.
Sebagai seorang pendatang baru dan mata uang Euro belum pecah, naluri penjelajah masih akan melekat erat setidaknya hingga 6 minggu pertama. Tempat yang harus dijelajahi pertama kali adalah tempat jajanan. Berlin bisa menjadi surga bagi pecinta sosis. Di daerah Alexanderplatz, tak jauh dari Weltzeituhr (World Time Clock) terdapat 2 lelaki berbadan tambun keliling menjajakan hot dog. Sosisnya 3 kali lebih panjang dari rotinya. Harganya murah, berkisar 1.50 Euro – 2.50 Euro.
Masih di sekitaran Alexanderplatz terdapat jejeran stall-stall kecil yang menyediakan berbagai macam penganan. Mulai dari crepes, pommes frites, coffee to go, es krim, hingga Berliner Bier. Town Square ini tak pernah sepi pengunjung. Di lapangan yang luas itu sering ada pertunjukan jalanan seperti break dance dan orkestra. Area ini layaknya tempat gaul para remaja Berlin. Seperti area di depan Maybank Bukit Bintang di Malaysia.
Untuk urusan lebih mendalam di bagian perut, di daerah Turmstrasse terdapat beberapa restoran idola mahasiswa Indonesia seperti Ris A, Kanun, dan Al Reda. Kanun menyediakan Familien Menu lengkap dengan ayam bakar, ayam goreng, kentang, roti, dan salad; dengan porsi besar yang cukup untuk 4 orang. Harga 17.50 Euro bisa dibagi 4. Pengunjung setia Kanun adalah mereka yang menganut idiom “ga ada lo ga rame”. Walau kadang-kadang ayam bakar menjadi rebutan. Di Kanun juga tersedia teh hangat gratis yang bisa di-refill berkali-kali. Hanya terkadang pemiliknya lupa mengganti gelas dan tempat gula dibiarkan kosong. Di sebelah kanan Kanun terdapat cafe yang menyediakan shisha. Hanya saja saya belum pernah mencobanya.
Bersebelahan dengan Kanun, ada Al-Reda. Menu yang disediakan adalah khas Iran namun rasa universal bangsa Timur Tengah. Hampir semua menu dihidangkan bersama nasi. Menu nomor 1 pilihan mahasiswa Indonesia adalah Kubideh. Setumpuk nasi dengan daging kebab yang mengelilingi setengah piring. Porsi ini disantap per orang dan tidak cocok bagi mereka yang berlambung kecil dan cepat kenyang. Saya sering memesan shawarma, roti gulung berisi daging atau ayam dengan beberapa sayuran di dalamnya. Sama halnya dengan Kanun, Al Reda juga menyediakan teh hangat gratis yang bisa ditambahkan dengan daun mint. Menu yang pas saat musim dingin.
Berlin adalah kota yang memanjakan pejalan kaki (Fußgänger). Berjalan kaki selama 30 menit tidak akan terasa bosan. Di sepanjang jalan berjejer toko-toko dengan jendela lebar untuk display barang. Dari sinilah istilah window shopping itu berasal. Kita bisa menikmati barang display tanpa harus masuk ke dalam toko. Selain itu, arsitektur bangunan di Berlin agak membosankan. Terkadang masih ada arsitektur bangunan yang dibiarkan menua meskipun bagian lain telah dimodernisasi. Meskipun demikian pejalan kaki juga harus tetap berhati-hati dan memperhatikan rambu-rambu jalan. Hindarilah jalur berwarna merah yang khusus untuk pengendara sepeda (Radler).
Di Berlin pernah terjadi tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah modern. Kekejaman Hitler dan NAZI yang membunuh jutaan bangsa Yahudi dan komunis hingga dibangunnya tembok pemisah yang membelah Berlin menjadi dua wilayah. Agar tidak dilupakan, masyarakt Berlin maupun negara-negara Eropa lainnya banyak membangun museum. Hanya dengan melihat bekasnya, orang-orang bisa mengingat dan belajar dari masa lalu. Kini, Berlin menjadi kota yang pas untuk berefleks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar