Sekilas Tentang Hidup di Berlin
Ini bukan kisah sedih mengenai seseorang
yang hampir mati kehausan karena tersesat di gurun Sahara atau terjatuh
di jurang Canyon. Tapi ini adalah cerita informatif saya mengenai kota
yang belum lama ini saya tinggali. Berlin bukanlah kota wisata yang
menyuguhi pemandangan alam dan bangunan kastil tua jaman dahulu.
Layaknya ibukota, Berlin dipenuhi dengan gedung-gedung perkantoran dan
apartemen untuk mahasiswa, pekerja, maupun umum. Sangat jarang ditemukan
lapangan parkir yang luas di kota ini. Biasanya kendaraan pribadi hanya
diparkir paralel di sepanjang jalan. Sepertinya kendaraan pribadi
bukanlah kebutuhan utama di kota ini. Hal ini terlihat dari penumpang
transportasi umum yang tak pernah sepi 24/7.
Sarana yang memadai haruslah ditunjang
dengan transportasi yang setara pula. Sistem tranportasi Berlin terdiri
dari S-Bahn (railway), U-Bahn (railway), tram, bus, dan beberapa ferri.
Untuk memudahkan mobilitas penduduk, Berlin dibagi menjadi 3 bagian;
Zona A, Zona B, dan Zona C. Zona A terletak di tengah kota dan menjadi
jantung perekenomian. Di zona inilah terletak universitas ternama Jerman
seperti TU Berlin, HTW Berlin, dan Humboldt University. Brandenburger
Tor dan Holocaust Memorial Park juga terletak di zona ini. Zona ini
kemudian dikenal dengan Ringbahn. Zona B terletak di luar pusat kota
atau sebut saja ia semi kota. Jumlah penduduk yang tidak padat dan harga
sewa rumah yang sedikit murah menjadikan zona ini sebagai pilihan
tempat tinggal bagi mahasiswa baru. Zona C, zona di sekitar perbatasan
Berlin tapi merupakan kawasan elit. Daerah ini cocok bagi mereka yang
menginginkan ketenangan. Tak ada gedung tinggi, yang ada hanya rumah
khas eropa dengan pekarangan yang terawat rapi dilengkapi hut buat si
Blacky.
|
|
| Peta Railway Kota Berlin |
BVG (Berliner Verkerhs Aktiengesellschaft) adalah perusahaan yang
bertanggung jawab mengatur sistem transportasi di ibukota Jerman ini.
Sejak tanggal 1 Agustus 1949 BVG bekerja secara terpisah untuk daerah
Berlin Barat dan Berlin Timur, BVG West dan BVG Ost. Namun kembali
disatukan pada tanggal 1 Januari 1992 setelah kedua belah pihak bersatu.
Tiket bisa dibeli di mesin otomatis hampir di setiap peron stasiun.
Tiket yang sudah dibeli harus diaktivasi melalui mesin aktivasi berwarna
merah atau kuning bertuliskan “Entwerter”. Biasanya terdapat di setiap
peron atau di dalam bus dan tram. Jika kedapatan bepergian tanpa tiket,
akan dikenakan denda sebesar 40 Euro.
Satu tiket berlaku untuk semua jenis
transportasi umum kecuali taxi. Sangat penting pula untuk memperhatikan
masa berlaku tiket, seperti tiket one way, per 2 jam, harian, mingguan,
bahkan bulanan. Informasi lengkapnya tersedia di website BVG. Selain
harga tiket yang murah, sistem transportasi Berlin juga dikenal sangat
efektif bekerja selama 24 jam. Bagi mahasiswa biasanya hanya dikenakan
biaya semesterticket yang berfungsi sebagai biaya kuliah dan
juga tiket ke mana saja untuk wilayah Berlin, berkisar antara 200 Euro –
250 Euro per semester (tetap saja tidak termasuk taxi).
| Di depan Brandenburger Tor |
Banyak hal baru yang saya temui hingga
saat ini hampir 3 bulan hidup di Berlin. Sejak awal kedatangan akhir
Februari lalu, kegiatan saya hanyalah beradaptasi dengan keadaan
sekitar. Itu syarat yang harus diterima untuk bisa bertahan di tempat
asing.
Salah satu kutipan dari buku yang sempat saya baca sebelum berangkat, adalah: “Kadang,
kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri.
Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka
yang memberikan rumah itu untuk kita, apa pun bentuknya. Tapi, yang
paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri
sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan
merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun” – Life Traveler,
Windy Ariestanty.
Di Berlin juga terdapat pengemis, pengamen, dan berandalan kota yang
doyan mencoreti tembok. Setiap yang datar pasti memiliki lukisan atau
sekedar nama yang sulit terbaca karena huruf yang bertumpuk, yang
penting tidak polos (Dahulu, masyarakat intelektual Berlin melakukan
unjuk rasa dengan membuat grafiti jalanan). Sementara, pengemis berkedok
penjual koran. Ada yang hanya duduk diam di pintu stasiun, di depannya
terdapat tumpukan koran dan brosur, seolah-olah dijual. Siapa saja boleh
beli, tak ada patokan harga. Seikhlasnya saja. Ada juga yang berpindah
dari S-Bahn ke U-Bahn atau sebaliknya. Mereka akan bercerita mengenai
suatu informasi yang bisa menarik perhatian penumpang kemudian berjalan
menjajakan koran, kali ini harga dipatok berkisar 10 cent – 30 cent.
Pengamen tak mau kalah. Mereka biasa berkeliling dalam kelompok
kecil, antara 2 – 5 orang, membawa alat musik seperti gitar, biola, dan
sound system. Pengamen yang berkelompok ini biasanya licik, tak ada
lirik hanya musik saja. Sound system disambungkan dengan iPod. Melodi
kebanyakan bersumber dari iPod tersebut, sementara mereka hanya
memainkan alat musik seadanya. Namun harus saya akui, alunan melodi dari
iPod mereka easy listening, mungkin diaransemen sendiri.
Ada lagi pengamen yang memilih solo karier dan menetap di satu
tempat. Tipe ini biasanya berskill dan alat musiknya hanya satu,
biasanya gitar atau biola atau akordion. Lokasi operasi mereka adalah
bahnhof yang tidak terlalu ramai, seperti Westhafen, Schoenhauser Alle,
dll. Saya lebih menikmati hiburan dari pengamen seperti ini dibandingkan
dengan pengamen yang berkelompok tadi karena musik yang dimainkan lebih
fokus dan terarah. Tak jarang saya berjalan pelan untuk bisa lebih lama
menikmati alunan musik mereka. Pengamen tipe ini mirip dengan pengemis
yang hanya diam di depan pintu bahnhof namun bisa mengubah mood pendengarnya.
Sebagai seorang pendatang baru dan mata uang Euro belum pecah, naluri
penjelajah masih akan melekat erat setidaknya hingga 6 minggu pertama.
Tempat yang harus dijelajahi pertama kali adalah tempat jajanan. Berlin
bisa menjadi surga bagi pecinta sosis. Di daerah Alexanderplatz, tak
jauh dari Weltzeituhr (World Time Clock) terdapat 2 lelaki berbadan
tambun keliling menjajakan hot dog. Sosisnya 3 kali lebih panjang dari
rotinya. Harganya murah, berkisar 1.50 Euro – 2.50 Euro.
Masih di sekitaran Alexanderplatz terdapat jejeran stall-stall kecil
yang menyediakan berbagai macam penganan. Mulai dari crepes, pommes
frites, coffee to go, es krim, hingga Berliner Bier. Town Square ini tak
pernah sepi pengunjung. Di lapangan yang luas itu sering ada
pertunjukan jalanan seperti break dance dan orkestra. Area ini layaknya
tempat gaul para remaja Berlin. Seperti area di depan Maybank Bukit
Bintang di Malaysia.
Bersebelahan dengan Kanun, ada Al-Reda.
Menu yang disediakan adalah khas Iran namun rasa universal bangsa Timur
Tengah. Hampir semua menu dihidangkan bersama nasi. Menu nomor 1 pilihan
mahasiswa Indonesia adalah Kubideh. Setumpuk nasi dengan daging kebab
yang mengelilingi setengah piring. Porsi ini disantap per orang dan
tidak cocok bagi mereka yang berlambung kecil dan cepat kenyang. Saya
sering memesan shawarma, roti gulung berisi daging atau ayam dengan
beberapa sayuran di dalamnya. Sama halnya dengan Kanun, Al Reda juga
menyediakan teh hangat gratis yang bisa ditambahkan dengan daun mint.
Menu yang pas saat musim dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar