SELALU saja ada orang yang berpolah sembrono di Twitter dan
ujung-ujungnya malah dicaci maki sejuta umat alias di-bully di jagat
maya.
Kali ini hal itu menimpa Ahmad Gozali. Pria ini di akun Twitter-nya
menyebut dirinya independent financial planner. Jika akrab dengan
kicauannya, ia kerap berkiacau soal ekonomi syariah, terutama emas, dan
juga soal agama.
Tapi sejak awal pekan ini, pemilik akun @ahmadgozali ini jadi bahan
bullying di dunia maya akibat selebaran flyer yang diketahui memang
membawa-bawa namanya. Di flyer yang tersebar di Twitter itu dikatakan,
Ahmad Gozali yang hendak ber-umrah ke Tanah Suci mempersilakan siapa
saja menitip doa padanya. Doa itu akan dibacakan di tempat-tempat di
mana doa akan lebuh mudah dikabulkan, yakni tempat suci Umat Islam di
Mekkah dan Madinah. Disertakan pula, bagi yang hendak menitip doa
dikenakan "sedekah minimal Rp 100.000."
Nah, kontan saja hal ini mengundang kontroversi. Menitip doa sambil
mengenakan tarif yang dikatakan "sedekah minimal Rp 100 ribu" segera
mengundang kecaman dan bahkan jadi bahan lelucon para tweeps.
Ada yang berkelakar sudah bayar dan minta didoakan agar jadi pacar
Nabillah JKT48, Manchester United bertanding di Indonesia, atau juga ada
yang minta Metallica konser lagi di sini. Kebanyakan sih mengecam cara
si empunya hajat seperti sedang mengkomersilkan agama.
Melalui akun Twitter-nya, Ahmad Gozali sudah memberi penjelasan.
Niatnya bukan hendak mengkomersilkan agama dengan membuka jasa penitipan
doa. Katanya, "Ide awalnya adlh... "Jadilah donatur kami, akan kami
doakan selalu, bahkan sampai ke tanah suci". Namun konsep ini tidak
sempurna." Seperti segala miskomunikasi yang pernah terjadi di Twitter
sebelumnya. Apa yang diniatkan si empunya hajat dipersepsikan berbeda
oleh orang. Dalam teori komunikasi ada ketaksinkronan antara penyampai
pesan dengan si penerima pesan. Ini lazim terjadi di dalam komunikasi.
Tapi di era Twitter sekarang, akibatnya ya bisa di-bully sejuta umat.
Lewat tulisan ini saya tak hendak berjauh-jauh mengulasnya dari segi
agama, karena saya pun bukan ahli agama. Namun, dari segi nalar, acara
"titip doa" di Tanah Suci itu janggal. Sebab, sebelum melaksanakan hal
itu pertanyaan-pertanyaan berikut harus sudah dijawab tuntas terlebih
dahulu: Siapa si pendoa ini hingga ia yakin doanya bakal dikabulkan
Tuhan? Apakah ia sudah sangat saleh, tak punya cacat cela, sehingga
memberanikan diri untuk berdoa dengan orang lain? Bagaimana bila doa
yang dititipkan itu bertentangan dengan kepentingannya? Misalnya, ada
yang mendoakannya sengsara, apa ia akan mengucap doa itu juga?
Lantas, secara teknis, bila ada sejuta doa titipan apa semua doa itu
akan dibacakan satu-satu? Butuh berapa lama? Saya pernah membaca sebuah
cerpen yang pengarang dan judulnya saya lupa. Yang saya ingat, ada
adegan seseorang hendak berangkat haji. Dan kata seseorang tokoh yang
berprasangka buruk pada si calon haji, di Tanah Suci nanti untuk segala
titipan doa yang diberikan ia bakal bilang, "Tuhan, ini ada titipan doa.
Silakan baca sendiri."
Lagipula, dengan mengenakan tarif, harus ada hukum ekonomi dagang
yang berlaku adil. Misalnya, si empunya hajat harus bisa menjanjikan
batas waktu doa terkabul atau tidak. Lalu, tidakkah yang sudah membayar
sepatutnya juga dapat jaminan uang kembali jika doa tak terkabul?
***
Nah, sekali lagi, semua pertanyaan di atas harus dijawab tuntas
dahulu sebelum berani mengajukan diri jadi orang yang dititipkan doa
apalagi dengan mengenakan tarif segala.
Lewat tulisan ini saya lebih tertarik hendak mengajukan argumen, darimana sebetulnya tradisi titip doa bermula?
Well, sebetulnya tradisi titip doa adalah sebuah budaya yang
sangat khas Indonesia. Kita ini bangsa religius yang masyarakatnya
gemar berdoa. Sebelum kita mengenal agama yang terlembagakan seperti
kita kenal sekarang, nenek moyang kita sudah gemar berdoa. Saya pernah
membaca, akar kata "pohon" sangat erat dengan laku "memohon" karena pada
sebuah pohon orang kerap menaruh sesaji memohon doa.
Dari kegemaran berdoa itu, masyarakat kita sangat mempercayai berdoa
di tempat-tempat yang dikeramatkan akan memudahkan doa jadi terkabul.
Dari sini, tradisi ziarah kubur kepada para wali ataupun orang-orang
saleh tak hanya menghayati nilai kehidupan sang wali atau orang saleh
tersebut, melainkan juga sekalian memanjatkan doa di tempat itu.
Nah, lantaran jarak Tanah Suci dengan negeri kita demikian jauh,
kepada orang-orang yang hendak pergi ke sana kita kerap berbasa-basi
(atau kadang juga serius) menitipkan doa. Ini sudah jadi hal yang
lumrah. Saya pun pernah melakukannya, menitipkan doa pada orang yang
hendak berhaji. Apa doa titipan saya diucapkan di sana, saya tak tahu.
Menganggap tradisi dan kemudian "mengkomersilkannya" dan serta
melembagakannya itu yang mengundang perkara titip doa ini jadi polemik.
Pun bagi saya, daripada menitipkan doa kepada seseorang yang tak kita
ketahui betul sampai di mana tingkat ketaatannya, tidakkah lebih baik
kita berbakti pada orangtua sendiri lalu minta didoakan oleh orangtua
kita? Saya rasa itu bakal lebih manjur.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar